BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates

Butuh Revitalisasi Pasar Tradisional

SLAWI – Pasar tradisional mulai tersisih dengan kehadiran pasar modern yang bersih, nyaman, tertib dan aman. Kondisi itu harus disikapi pemerintah dengan merevitaliasi pasar tradisional. Pasalnya, pasar tradisional merupakan pusat perekonomian masyarakat.
“Pengelola pasar tradisional Kabupaten Tegal perlu pembenahan total. Banyak pedagang pasar tradisional saat ini mengeluh tentang kondisi pasar,” kata Anggota DPRD Kabupaten Tegal, Hartono Sosrodjojo, kemarin.
Dikatakan, sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Tegal tengah dilakukan pembenahan. Namun demikian, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait yang mengelola pasar harus memaksimalkan kinerjanya. Terutama, pembenahan managemen pengelolaan pasar yang diawali dengan reformasi mental pengelola pasar.
“Selama ini, petugas pasar terkesan hanya memungut uang retribusi saja,” ujar anggota Komisi IV itu.
Menurut dia, pengelolaan pasar tradisional seharusnya seperti pengelolaan pasar modern yang bersih, nyaman, tertib dan aman. Hal itu dibutuhkan pengelola yang profesional dengan mendasari Program Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. Program itu berkaitan dengan pencapaian peningkatan persentase keluarga sejahtera di Kabupaten Tegal. “Jika pasar tradisional kalah dengan pasar modern, maka kegiatan ekonomi rakyat lumpuh,” ujar politisi Partai Demokrat itu.
Selain managemen pengelolaan, lanjut dia, pembenahan fasilitas pendukung sangat diperlukan. Hal itu menjadi tanggungjawab pengelola, seperti halnya fasilitas MCK, parkir, sampah dan kebersihan pasar. Selain itu, harus diperhatikan tentang kios, lantai, keamanan dan pengawasan penggunaan kios.
“Banyak yang mengeluhkan kondisi pasar tradisional yang ada, seperti Pasar Trayeman banyak sarana yang rusak, lobang saluran air yang rusak membahayakan para pengunjung, dan pintu tralis besi yang rusak dibiarkan,” beber Hartono.
Selain itu, kata dia, kondisi serupa juga terjadi di Pasar Kemantran yang baru dibangun. Namun, sarana MCK sudah tidak terawat, parkir semrawut, dan tidak ada parkir untuk kendaraan barang. Hal itu seharusnya sudah diperhitungkan sebelum pembangunan pasar. Semisal, menghitung luas tanah yang ada, besar bangunan pasar maksimal yang bisa dibangun, sarana prasarana yang harus ada, spesifikasi detail material bangunan, luas parkiran yang diperlukan, penempatan kios-, jaringan listrik, penerangan, drainase aliran air limbah, tempat sampah, sistem pemadam kebakaran, tersedianya suplai air yang mencukupi, hingga kapasitas daya tampung pengunjung.
“Kami berharap tercipta pasar-pasar tradisional yang modern dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya angan-angan semu saja,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *