Slawi- Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal di kepung banjir dalam waktu sepekan terakhir. Puncaknya terjadi Senin pagi, 16 Februari 2026, ketika banjir besar merendam hampir seluruh sudut desa.
Air datang tanpa permisi. Rumah-rumah warga, fasilitas pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA, semuanya tak luput dari genangan. Jumlahnya mencapai ribuan bangunan terdampak.

Ketinggian air bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga 1,5 meter. Di sejumlah titik, warga harus mengungsi sementara ke rumah kerabat atau bertahan di lantai dua rumah mereka.
Sementara di luar, arus air kecokelatan membawa lumpur dan puing-puing, menyisakan jejak pilu di setiap halaman. Banjir kali ini bukan hanya di Desa Sidaharja.
Wakil Ketua DPRD Rudi Indrayani menyebut air juga merendam Desa Purwahamba di Kecamatan Suradadi, Desa Maribaya dan Desa Kemuning di Kecamatan Kramat, serta Desa Sukareja di Kecamatan Warureja.
Ketiga kecamatan itu berada di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tegal, kawasan yang saban musim hujan selalu dihantui kecemasan.
“Ini bukan hanya bencana satu desa. Hampir sepanjang pesisir terdampak. Kami mendorong penanganan serius dan menyeluruh,” tegas Rudi Selasa, 17 Februari 2026.
Di Sidaharja, biang keladi banjir disebut berasal dari luapan Sungai Cacaban yang membentang di sisi barat desa. Sungai itu sekaligus menjadi batas alami antara Kecamatan Suradadi dan Kecamatan Kramat.

Debit air yang tinggi dari hulu tak mampu tertampung, meluap dan menjalar cepat ke permukiman warga. Wakil Ketua DPRD Rudi Indrayani mendesak agar normalisasi Sungai Cacaban dituntaskan dari hulu hingga hilir. Ia juga menyoroti kondisi Jembatan Sidaharja–Plumbungan yang dinilai terlalu pendek sehingga menghambat aliran air.
“Kalau tidak dibenahi dari akar persoalan, banjir akan terus berulang setiap tahun,” ujarnya.
Selain sungai, persoalan drainase juga menjadi sorotan. Ruas Jalan Peleman–Jatibogor diduga memiliki saluran yang tersumbat sehingga air tidak mengalir lancar.
Ditambah lagi kondisi Jalan Sidaharja–Jatibogor yang sudah lama rusak berat dan semakin parah setelah diterjang banjir.
Di tengah genangan yang masih setinggi lutut hingga dada orang dewasa di beberapa titik, Rudi bersama warga turun langsung membagikan lebih dari 1.200 nasi bungkus kepada korban terdampak.
Dengan perahu kecil, ia menyusuri gang-gang sempit yang berubah menjadi “sungai dadakan”.
Nursidik, salah satu warga Sidaharja, mengaku banjir kali ini paling parah yang ia rasakan.
“Hampir merata, Mas. Satu desa kena semua. Alhamdulillah kemarin dapat nasi bungkus. Pak Bakhrun sampai pakai perahu ke rumah-rumah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ngadio. Menurutnya, banjir membuat aktivitas warga lumpuh total. Warung tutup, petani tak bisa ke sawah, dan jalanan utama tak bisa dilalui.
“Untung anak-anak sekolah sedang libur. Kalau tidak, pasti tambah repot,” ucapnya. “Terima kasih sudah mau berbasah-basahan membantu warga.”
Tak hanya rumah, puluhan hektare tanaman padi dan melati ikut terendam. Petani hanya bisa berharap genangan segera surut agar tanaman tidak gagal panen.
Bagi sebagian warga, sawah dan kebun melati adalah satu-satunya sumber penghidupan.
Selasa pagi, 17 Februari 2026, air memang mulai surut. Namun di sejumlah titik, terutama permukiman di tepi Jalan Pantura Desa Sidaharja, genangan masih terlihat.
Lumpur tebal menutup lantai rumah dan badan jalan. Warga bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir, menjemur kasur, memilah perabot yang masih bisa diselamatkan.
Di setiap wajah, terselip kelelahan. Namun juga ada tekad untuk kembali bangkit.
“Banjir ini hampir tiap tahun datang. Harapan kami sederhana, pemerintah benar-benar serius menanganinya,” ucap Nursidik lirih.
Sidaharja mungkin telah kering dari genangan. Tetapi jejak banjir masih membekas di dinding rumah, di sawah yang menguning sebelum waktunya, dan di hati warga yang berharap tahun depan tak lagi menyambut musim hujan dengan rasa waswas.





