SLAWI, – Memprihatinkan! Budaya dan Bahasa Jawa di Kabupaten Tegal mulai luntur tergerus derasnya arus digitalisasi. Karena itu, DPRD Kabupaten Tegal mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bergerak tidak hanya bengong melihatnya.
Peringatan keras semakin lunturnya Budaya dan Bahasa Jawa di Kabupaten Tegal diserukan Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Bagus Sakti Maulana SH.
Bagus meminta Pemerintah Kabupaten Tegal tidak tinggal diam dan segera menyusun langkah konkret untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat pendidikan moral dan karakter di kalangan pelajar.
Menurut dia, derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi membawa dampak besar terhadap pola pikir, perilaku, hingga cara berkomunikasi generasi muda.
Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengikis nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi bagian dari jati diri masyarakat Kabupaten Tegal.
“Pemkab Tegal harus bisa melindungi dan menjaga generasi muda dari doktrin karakter yang kurang tepat. Di sisi lain, kita juga harus melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia, khususnya budaya yang hidup dan berkembang di Kabupaten Tegal,” tegasnya, Sabtu 30 Mei 2026.
Bagus menilai, era digital seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat akses informasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter dan kebudayaan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu serius merancang kebijakan yang mampu menanamkan nilai moral, etika, dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.
Dia meyakini Kabupaten Tegal memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang tidak kalah dibanding daerah lain. Bahkan, jika dikelola dan dikenalkan secara baik kepada generasi muda, budaya lokal bisa menjadi kekuatan yang mampu dikenal hingga tingkat dunia.
“Kita punya banyak tradisi luhur. Kalau kita bisa mengambil momentumnya, saya yakin bukan hanya menjaga budaya sendiri, tetapi kita juga mampu memperkenalkannya kepada dunia,” ujarnya.
Salah satu fenomena yang menjadi perhatian serius Bagus adalah mulai memudarnya penggunaan bahasa Jawa, terutama bahasa krama alus dan krama inggil, di tengah masyarakat.
Padahal, menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan karakter dan identitas budaya suatu daerah.
“Contoh nyata kenapa saya ingin Pemkab serius dengan persoalan ini adalah mulai menghilangnya dialek-dialek bahasa Jawa di masyarakat kita, khususnya bahasa krama inggil dan krama alus. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Bagus menilai, penggunaan bahasa Jawa yang santun memiliki hubungan erat dengan pembentukan karakter seseorang. Cara seseorang berbicara, kata dia, dapat mencerminkan pola pikir, pengendalian emosi, hingga nilai moral yang dimiliki.
“Saya sangat yakin bahwa dengan satu hal ini saja, yakni menanamkan bahasa Jawa kepada generasi muda, akan berpengaruh terhadap karakter seseorang. Karena cara seseorang berbahasa mencerminkan pola pikir, emosi, dan nilai moralnya,” ungkapnya.
Sebagai wakil rakyat yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, Bagus menegaskan bahwa generasi muda merupakan aset penting yang akan menentukan masa depan Kabupaten Tegal.
Karena itu, pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton ketika terjadi pergeseran nilai dan budaya di tengah masyarakat.
“Para pemuda yang nantinya menjadi generasi penerus harus kita lindungi dan bimbing. Pemerintah harus memiliki kebijakan yang arahnya ke sana, sehingga pembangunan sumber daya manusia berjalan seiring dengan pelestarian budaya,” cetusnya.
ntuk mewujudkan hal tersebut, Bagus meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal agar memberikan perhatian lebih terhadap penguatan pembelajaran bahasa Jawa dan muatan lokal di sekolah-sekolah.
Menurut dia, keberadaan mata pelajaran bahasa Jawa mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA sederajat harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana pembentukan karakter.
“Saya ingin ke depan Pemkab melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal benar-benar serius menyikapi persoalan ini. Kita sudah memiliki mata pelajaran bahasa Jawa dan muatan lokal. Itu bisa menjadi instrumen yang efektif untuk menanamkan nilai budaya, etika, dan karakter kepada generasi muda,” pungkasnya





