SLAWI, – Sejumlah desa di Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, kerap dilanda banjir setiap musim hujan tiba. Banjir yang datang nyaris tanpa jeda itu tak hanya merendam permukiman, tetapi juga menggerus sendi perekonomian warga.
Jika diakumulasi, kerugian yang ditimbulkan disebut telah menembus ratusan juta rupiah.
Anggota DPRD Kabupaten Tegal dari Dapil VI yang meliputi Kecamatan Margasari, Balapulang, dan Pagerbarang, Tuti Setianingsih, angkat bicara terkait persoalan tersebut.
Dia menyatakan banjir bandang di wilayah itu hampir selalu berulang setiap musim penghujan.“Setiap musim hujan, warga selalu waswas. Terutama di desa-desa yang dilintasi Sungai Kumisik. Air sering meluap dan masuk ke permukiman,” ujar Tuti saat ditemui di Kantor DPRD Kabupaten Tegal, Selasa (3/3/2026)
Beberapa desa yang kerap terdampak antara lain Desa Paku Laut, Dukuh Tengah, hingga Prupuk Utara.
Wilayah-wilayah itu dinilai menjadi titik rawan karena berada di sekitar aliran Sungai Kumisik yang melintasi Kecamatan Margasari.
Menurut Tuti, meluapnya Sungai Kumisik menjadi salah satu pemicu utama banjir. Sungai tersebut diduga mengalami pendangkalan cukup parah, sehingga tak lagi mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.
Di sisi lain, kondisi drainase di sejumlah titik juga memprihatinkan.
“Normalisasi Sungai Kumisik harus segera dilakukan. Saat ini terjadi pendangkalan yang cukup signifikan. Ditambah lagi drainase banyak yang menyempit dan tersumbat. Aliran air tidak lancar, sehingga meluap ke rumah-rumah warga,” tegas Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal itu.
Sebagai Perwakilan Dapil VI meliputi Kec. balapulang , Kec. Pagerbarang , kec. Margasari, ia menilai persoalan banjir di Margasari tak bisa lagi dipandang sebagai bencana musiman biasa.Meski air kerap surut dalam waktu relatif cepat, dampaknya bagi masyarakat tidaklah sederhana.
“Memang airnya cepat surut, tapi dampaknya tidak sebentar. Perabotan rusak, dinding rumah lembab, aktivitas warga terganggu. Perekonomian jelas terpukul,” ungkapnya.
Kerugian warga, lanjut Tuti, bukan hanya dari kerusakan barang-barang berharga, tetapi juga dari hilangnya kesempatan mencari nafkah. Saat banjir datang, aktivitas ekonomi praktis lumpuh. Pedagang kecil, wiraswasta, karyawan swasta, hingga tukang ojek dan tukang becak terpaksa berhenti bekerja.

“Kalau sudah banjir, mereka tidak bisa bekerja. Penghasilan berhenti. Ini yang sering tidak terlihat, padahal dampaknya nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat kecil,” ujarnya.
Tuti pun mendesak Pemerintah Kabupaten Tegal agar memberi perhatian lebih serius terhadap Kecamatan Margasari.
Ia menekankan bahwa pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jalan, tetapi juga harus menyentuh sistem drainase dan pengendalian banjir secara komprehensif.
“Peningkatan jalan memang penting, tapi jangan lupa drainase dan sungai. Kalau tidak segera ada penanganan serius, banjir bisa semakin meluas dan kerugian warga akan terus bertambah,” terangnya.
Dia berharap dalam waktu dekat ada langkah konkret, mulai dari kajian teknis, usulan normalisasi sungai ke pemerintah provinsi, hingga perbaikan drainase secara menyeluruh di titik-titik rawan. Dengan begitu, warga Margasari tidak lagi dihantui kecemasan setiap kali awan gelap menggantung di langit.
“Warga butuh solusi yang permanen, bukan sekadar penanganan darurat,” tandasnya.






