Slawi – Kawasan Wisata Guci yang terletak di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, kembali mengalami bencana banjir bandang. Peristiwa ini terjadi hanya sekitar satu bulan setelah kawasan tersebut dilanda kerusakan cukup parah pada Desember 2025, terutama di sekitar area Pancuran 13 yang saat itu baru saja rampung diperbaiki. Banjir bandang terbaru ini dilaporkan terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, dan menimbulkan dampak yang lebih luas dibanding kejadian sebelumnya. Sebagai bentuk respons cepat,
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Sugono menilai banjir akan terus terjadi, karena kawasan hutan di atas Guci belum pulih. Kendati gencar di lakukan penanaman, namun belum berdampak positif bagi kelestarian hutan di lereng Gunung Slamet.

Musibah banjir yang memporak-porandakan wisata Pancuran 13, Pancuran 5 dan tiga jembatan di aliran Sungai Gung itu, butuh penataan ulang kawasan obyek wisata Guci.
“Banjir besar seperti ini mungkin akan terjadi cukup lama, karena penanaman pohon saat ini akan berimbas 10 tahun mendatang,” kata Sugono Minggu (25/1/2026).

Wakil Ketua DPRD Sugono, menilai upaya penanaman pohon yang marak saat ini, tidak langsung berdampak pada banjir bandang di Sungai Gung. Pasalnya, pohon yang bisa menahan laju air dan menguatkan tanah, harus pohon besar. Padahal, tiap pohon usia berbeda-beda. Rata-rata pohon yang mampu menahan air dan tanah bisa 5-10 tahun.
“Selama proses ini, bangunan di tepi sungai baik itu penginapan, villa, hotel dan wahana wisata, harus di tertibkan,” ujar Sugono
Menurutnya, aturan mendirikan bangunan di tepi sungai harus di jalankan. Hal itu di maksudkan agar lebar sungai tetap terjaga dan tidak merusak benteng-benteng sungai. Terutama, di bawah Pancuran 13 di sebelah barat yang terdapat bangunan penginapan. Lokasi itu harus segera di tangani, karena jika kembali terjadi banjir, di khawatirkan akan longsor.

“Di Pancuran 13, di kembalikan alami seperti sebelumnya. Jangan di bangun hingga menjorok ke sungai,” terang Wakil Ketua
Soal pipa-pira yang mengambil air panas di Pancuran 13, Sugono menyarankan agar di tata ulang. Pipa tidak boleh melalui jalur sungai yang membuat sungai semakin sempit. Selain itu, pipa-pipa tersebut juga merusak keindahan Guci.
“Sistemnya seperti PDAM, ada bak penampung yang menyalurkan ke penginapan dan wahana wisata. Jadi, rapih dan tidak mengganggu aliran sungai,” beber Sugono
Di tambahkan, kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan juga harus di tingkatkan. Memanfaatkan hutan menjadi lahan pertanian sayuran, membuat banjir bandang. Selain itu, pengelola penginapan dan wisata juga harus sadar akan pentingnya kelangsungan hutan.
“Harus sama-sama menyadari akan pentingnya hutan,” Terangnya






