Slawi – Petani di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, masih dihantui persoalan pasokan air setiap memasuki musim tanam. Rusaknya jaringan irigasi membuat lebih dari 200 hektare lahan persawahan belum bisa mendapatkan pengairan secara optimal. Akibatnya, petani terpaksa mengandalkan curah hujan untuk menjaga tanaman tetap tumbuh. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian. Saat hujan tidak turun sesuai kebutuhan, tanaman terancam kekurangan air. Petani pun harus menghadapi risiko gagal panen hingga kerugian akibat biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Persoalan irigasi ini mendapat perhatian Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, H. Bakhrun.
dia meminta pemerintah segera melakukan normalisasi dan optimalisasi jaringan irigasi di wilayah tersebut.
Menurut Bakhrun, ketahanan pangan tidak bisa hanya bertumpu pada upaya meningkatkan produksi pertanian. Ketersediaan infrastruktur pengairan harus dipastikan agar petani memiliki kepastian pasokan air selama musim tanam. “Untuk mewujudkan ketahanan pangan, irigasi harus dinormalisasi dan dimaksimalkan. Jangan sampai petani terus dibebani persoalan air hingga berujung gagal panen,” kata Bakhrun.
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) III yang meliputi Kecamatan Kramat, Suradadi, dan Warureja itu menjelaskan, sebagian besar lahan pertanian di Purwahamba belum terjangkau jaringan irigasi yang memadai.
Akibatnya, aktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika pasokan air tidak mencukupi, pertumbuhan tanaman terganggu. Padahal, petani sudah mengeluarkan modal untuk pengolahan lahan, pembelian benih, pupuk, hingga perawatan tanaman. Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Purwahamba, Maskon, berharap pemerintah segera merealisasikan normalisasi saluran irigasi tersier di wilayahnya. Menurutnya, pembenahan saluran tersebut menjadi kebutuhan mendesak agar distribusi air menuju lahan persawahan bisa berjalan lebih optimal. Tanpa perbaikan, petani khawatir persoalan kekurangan air akan terus berulang setiap musim tanam.
“Kami berharap normalisasi jaringan irigasi tersier segera dilakukan. Jika infrastruktur pengairan tidak segera dibenahi, kami khawatir gagal panen. Target ketahanan pangan tentu tidak terwujud,” tandasnya. Maskon berharap perbaikan irigasi dapat segera direalisasikan sehingga kebutuhan air petani pada musim tanam I dan II 2026 bisa terpenuhi. Dengan begitu, produktivitas lahan pertanian di Purwahamba dapat meningkat dan risiko kerugian petani bisa ditekan.





